I post random thoughts.

Monday, June 29, 2015

Perpisahan

Ah, rasanya telat banget kalau menceritakan ini sekarang, pasalnya perpisahannya sudah 2 minggu yang lalu. My bad. Gimana dong? Kan baru sempatnya sekarang :p better late than never. Yak.

Rasanya senang bisa melepas seragam putih biru dan menggantinya dengan seragam putih abu-abu. Semakin dekat dengan mimpiku sebagai Sastrawan. Hahaha. Aneh ya menertawakan mimpi sendiri? Habisnya aku... malu. (/-\)

Ini perpisahan pertamaku atau mungkin bisa dibilang, ini adalah perpisahan yang sangat bermakna bagiku. Perpisahanku saat SD biasa-biasa saja, dan tidak meninggalkan makna dan kerinduan sedikitpun. Kecuali kerinduan akan jajanan abang-abang di SD dulu, terutama kue cubit. Ah jadi kangen.

Alhamdulillah, acaranya berjalan dengan lancar, dan aku mengikutinya dari awal. Di undangannya tertulis acaranya dimulai pukul 08.00WIB tapi aku tiba di sekolah pukul 08.30WIB kurang / lebih sedikit. Tapi acaranya baru mulai kok jadi gak disebut telat kan?

Aku sudah sedikit lupa bagaimana detail acaranya, hanya sedikit-sedikit hehe jadi gak diceritain semua. Yang jelas acaranya berlangsung sangat khusyu. Aku gak ingat jelas pukul berapa acaranya berakhir, tapi yang jelas saat acaranya berakhir matahari sudah mulai terik-teriknya. Menurutku, puncak acaranya berada di akhir, yaitu pembagian rapor dan hasil kelulusan. Serius, menunggu rapor dan hasil kelulusan dibagikan itu seperti menunggu dieksekusi mati haha. Sampai-sampai aku tidak bisa betul-betul menikmati acaranya karena pikiranku dipenuhi oleh bayangan betapa hancurnya nilaiku. Ternyata hasilnya gak seburuk yang kukira. Aku cukup merasa puas dengan hasil yang kuperoleh, terutama nilai Bahasaku. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, keduanya sangat memuaskan. Tapi tetap, nilai matematika-ku masih kurang.

Aku tidak bisa betul-betul menikmati hiburannya. Menurutku hiburannya sedikit membosankan terutama hiburan Jawa Baratnya. Bukan berarti aku tidak suka hiburan Jawa Barat, ya. Aku suka melihat hiburan daerah, tapi untuk kali ini, maaf, itu terasa membosankan. Bagaimana tidak? Orang yang kusukai berperan penting dalam hiburan tersebut. Dan, tentu saja dia tidak sendirian, dia ditemani oleh seseorang yang sama sekali tidak aku ketahui siapa dia. Hiburan saat itu berhasil membuat hatiku teriris perlahan-lahan. Haha lebay ya? Tapi serius! Baru kali ini aku ingin berada di sampingnya menggantikan orang itu. Saat hiburan daerahnya berlangsung, aku melihat dari belakang panggung. Menurutku itu spot yang cukup comfortable untuk melihatnya dari dekat tanpa diketahui olehnya. Saat di belakang panggung aku tersadar bahwa selama ini aku hanya dapat melihatnya dari belakang: berjalan di belakangnya tanpa ia sadari. Sebetulnya aku tidak ingin sih kalau dia menyadari aku yang sedang memperhatikannya. Aku suka berjalan di belakangnya, aku bisa melihatnya sesering yang kuinginkan tanpa disadari olehnya. Tapi, terkadang aku juga ingin berjalan di sampingnya, tertawa bersamanya menggantikan posisi temannya. Ah tapi, siapalah saya ini?

Meskipun kami berdua tidak dapat mengenal satu sama lain dengan dekat tapi aku sangat bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan salah satu dari sekian banyaknya ciptaan-Nya yang indah. Perasaan ini memang tidak bisa tersampaikan, setidaknya, doa yang selalu kupanjatkan setiap malam ketika aku terbangun dapat tersampaikan kepadanya.

Tanpa kusadari ternyata aku sudah menyukainya sejak kami masuk SMP. Perasaan itu mulai pudar dan kembali hadir saat kami duduk di kelas 2. Saat kelas 2, kami pernah dua kali menaiki angkutan umum yang sama. Dari situ perasaanku hadir kembali, dan semakin membesar ketika aku sering melihatnya pergi ke masjid (Sumpah, ini gak penting). Sampai sekarang, aku masih menyukainya, dan bertepuk sebelah tangan.

2 minggu yang lalu adalah hari pertama kami dipertemukan kembali sejak hari Kamis bulan lalu. Sekaligus pertemuan terakhirku dengannya. Pertemuan terakhir kami sangat singkat tapi sangat berkesan bagiku. Mungkin saat itu ia tidak melihatku, tapi aku melihatnya dengan jelas. Tuhan memang baik. Dia merancang pertemuan terakhir kami sebaik mungkin.

Dimanapun kamu berada, semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan dan kesehatan untukmu, persis seperti isi doa yang kupanjatkan untukmu setiap hari.

Sincerely, Kyuto Karen.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Perpisahan

1 komentar:

Terima kasih sudah mampir. Silakan tinggalkan jejak dengan cara berkomentar di kolom komentar. Kalau ada waktu pasti dikunjungi balik. Salam! :)

Copyright © 2016 Kyuto Karen