I post random thoughts.

Friday, September 18, 2015

Manipulasi

Apakah manipulasi itu? Menurut sumber yang gue baca yakni Wikipedia, Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan, pensembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau keseluruhan sebuah realitas, kenyataan, fakta-fakta ataupun sejarah yang dilakukan berdasarkan sistem perancangan sebuah tata sistem nilai, manipulasi adalah bagian penting dari tindakan penanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu. Oke, gue tau kalian males baca pengertiannya. Singkatnya, manipulasi adalah penipuan. Cmiiw.

Tanpa kita sadari, kita memang sering sekali di-manipulasi oleh orang lain. Begitupun dengan gue. Beberapa hari yang lalu ada seseorang, oh bukan, dua orang yakni sepasang suami istri yang berhasil memanipulasi gue. Anjay.

Pasangan suami istri ini adalah penjual koran. Kok bisa gue di-manipulasi oleh penjual koran? Jadi ceritanya sepulang sekolah gue bersama satu-satunya lelaki yang setia menemani gue kemanapun (baca: bokap) pergi mencari koran berbahasa Inggris untuk esok hari. Gue sudah mengunjungi dua tempat namun hanya menemukan di tempat kedua. Itu pun menemukannya dengan penuh perjuangan. Terjadi adegan dramatis antara gue dan penjual koran.
G:"Bu, ada koran Jakarta Post?"
PK(1):"Gak ada. Ini juga pada nyari. Nih contohnya kayak gini, kan?" Doi lantas memberikan sebuah koran Jakarta Post.
Dengan sepotong senyum di wajah yang pas-pasan gue menjawab, "Kalau ini aja saya bayarin gimana, bu?"
PK(1):"Yah, gak bisa. Ini pesanan orang"
Tolong dicatat: koran itu hanya satu dan itu pesanan orang lain.
G:"Yah, bu... terus gimana?"
PK(1):"Kalau mau nanti ke sini lagi habis maghrib."
Terjadi percakapan yang gak gue ingat detailnya. Tapi yang jelas inti dari percakapannya adalah, koran itu adanya habis maghrib dan hanya tersedia 50 koran. Karena stok korannya sedikit dan peminatnya banyak, timbullah segenap kelicikan. Mereka menjual korannya perlembar bukan satu koran gitu.

Lalu gue pergi meninggalkan tempat koran itu dan bergegas naik ke motor bokap. Lalu bokap gue menyarankan untuk memberi uang muka setengah agar gue tetap bisa dapat koran itu. Gue kembali ke penjual koran itu.
G:"Pak, kalau saya bayar setengah dulu gimana? Jadi nanti saya udah pasti dapet, gitu."
PK(2):"Ibu... ibu..."
Heran. Kenapa gak dia jawab dan malah manggil istrinya?
PK(1)"Kenapa, pak?"
PK(2):"Ini katanya mau bayar setengah dulu. Kasih, gak?"
PK(1):"Hmm... yaudah, deh. Nih. KASIAN GUE NGELIAT LU, NENG."

WTF?! DON'T FEEL SORRY FOR YOURSELF. ONLY ASSHOLES DO THAT.

Gue terlalu sombong untuk di-kasihani. Jadi, jangan pernah mengasihani gue. Got it?

Ternyata penjual koran itu memberikan gue selembar koran Jakarta Post yang di awal dia bilang itu adalah pesanan orang lain. Dia memberikan koran itu tidak dengan cuma-cuma. Dia mematok harga lima ribu rupiah untuk satu lembarnya. Karena gue gak tau lagi harus nyari korannya dimana. Dan rasa takut akan dihukum guru lebih besar dibanding rasa gengsi gue, akhirnya gue menyerahkan uang lima ribu rupiah kesayangan gue. Dan bergegas pergi meninggalkan tempat koran itu.

Saat gue pergi meninggalkan tempat koran itu, gue sempat mendengarkan pembicaraan licik antara penjual koran dan orang yang satu sekolah dengan gue yang memang lagi butuh banget sama koran itu. Penjual koran itu juga menawarkan satu lembar koran dengan harga lima ribu rupiah dan beberapa orang itu menyetujuinya. Ya, sama persis seperti gue.

Awalnya gue kira dia bakal mematok harga sekitar dua ribu rupiah tapi ternyata semahal itu, kah? Btw, doi bilang satu korannya sepuluh ribu rupiah.

Gue gak ngerti lagi sama pemikiran mereka-mereka yang suka memperdaya orang lain. Mereka mematok harga khusus padahal mereka tau kalau orang lain lagi benar-benar butuh. Menurut gue pribadi bukan uangnya yang gue permasalahin, tapi attitude mereka. Mereka gak ada bedanya sama orang-orang yang menuntut uang lebih untuk bisa masuk ke sekolah favorite. Mereka gak ada bedanya sama para koruptor di luar sana. Jangan harap Indonesia bakal bebas dari korupsi kalau orang-orang seperti mereka belum musnah.

"People are so fake these days you have to keep it real with yourself."—@souljaboy

Sincerely, Kyuto Karen.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Manipulasi

2 komentar:

  1. mark up harga ya, ini Indonesia sob. negara korupsi sudah mendarah daging

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap. Tanpa disadari, hal-hal kecil seperti itu justru bisa menjadi akar dari korupsi di Indonesia.

      Delete

Terima kasih sudah mampir. Silakan tinggalkan jejak dengan cara berkomentar di kolom komentar. Kalau ada waktu pasti dikunjungi balik. Salam! :)

Copyright © 2016 Kyuto Karen