I post random thoughts.

Friday, October 30, 2015

Semua Ini Salah Siapa?

Ketua. Salah satu jabatan yang sering salah diartikan. Menurut asumsi gue, ketua adalah seseorang yang mengarahkan. Tapi menurut asumsi beberapa orang yang gue tahu, mereka mengartikan ketua sebagai seseorang yang pantas dibebani. Menurut gue tidak begitu. Karena sejatinya gak ada orang yang mau dibebani.

Ini terjadi beberapa hari yang lalu di kelas gue. Kelas gue dihukum, dijemur di lapangan setelah istirahat makan siang sekitar pukul 1 siang. Tahu sendiri, dong, bagaimana kondisi matahari pada saat itu? Ya, matahari sudah sangat bersemangat untuk membakar kami semua. Panas, coy! Ditambah lagi gue gak bisa kena panas. Ini serius. Kalau kena panas kepala gue bakal pusing dan muka gue bakal memerah. Gak. Gak memerah seperti habis ketemu gebetan. Beda jurusan, ya.

Sebelum dijemur anak-anak sudah pada tahu alasan mengapa kita dijemur. Jadi, ceritanya itu karena kami telat mengumpulkan tugas bahasa Inggris. Dan ada beberapa orang di kelas gue yang menyalahkan ketua kelas. Gue gak terima. Memang bukan gue ketua kelasnya, tapi gimana, ya? Menurut gue pribadi itu jelas bukan kesalahan murni si ketua kelas. Karena yang mengompori untuk mengumpulkannya pada esok hari bukan ketua kelasnya melainkan salah satu perempuan di kelas yang dengan bodohnya berkata, "udah, dikumpulinnya besok aja", lalu dia pun menuliskannya di papan tulis. Mungkin dia gak mikir panjang ke depannya gimana. Ya, memang udah menjadi kebiasaan beberapa manusia, mereka bertindak tanpa memikirkan ke depannya akan seperti apa, dan akan berdampak apa untuk orang-orang di sekitarnya. Dan, si perempuan ini juga ikut menyalahkan ketua kelas. Lucu gak? Gue angkat bicara pada saat itu. Gue bilang bahwa yang mengompori untuk dikumpuli esok hari itu bukan ketua kelas karena setahu gue, ketua kelasnya kalem-kalem aja saat itu. Beberapa orang itu lantas bertanya, siapakah gerangan yang mengatakannya? Gue menolak untuk memberi tahu siapa pelakunya. Bukan karena gue takut. Tapi karena gue memikirkan juga apa yang akan terjadi ke depannya dan apa dampak untuk si pelaku ini. Kalau bicara takut, tentu saja yang takut seharusnya si pelaku. Karena kasarnya, doi juga akhirnya yang bakal dikeroyok kalau ketahuan.

Gue merasa kasihan pada si ketua. Bukan, bukan karena gue ada rasa sama si ketua. Siapa pun orangnya kalau memang gue tahu doi gak bersalah ya jelas gue akan membelanya. Kalau kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi di kelas gue, kalian akan sependapat dengan gue. Mereka (gak semua, sih) memperlakukan si ketua dengan seenaknya. Tapi bodohnya si ketua mau aja digituin. Mereka membebankan semuanya pada si ketua. Gue yakin doi juga pasti punya masalah tersendiri, dan ya, bisa jadi masalahnya lebih berat daripada masalah yang kita sendiri hadapi, ditambah lagi doi dapat masalah tentang kelasnya. Plis, doi itu manusia. Akan ada titiknya di mana doi merasa sudah sangat lelah dan merasa bahwa semua usaha doi selama ini gak dihargai. Dan, ya, doi terlihat lemas akhir-akhir ini, gue ingin bertanya Ada Apa Dengan Cinta? Gak, ada apa dengan dia, tapi pasti akan melahirkan ribuan gosip. Serius, kelas gue rawan gosip. Peace, my friends. Mungkin permasalahan yang begitu rumit menyebabkan kesehatan tubuhnya menurun, gue pun pernah merasakannya. Ketika otak sudah tidak mampu menahan semuanya, tubuh lah yang akhirnya menjadi korban.

Mungkin kalian berpikir bahwa gue berpendapat seperti ini karena gue ada rasa sama doi, tapi kalian salah besar. Itu gak berlaku untuk doi aja, untuk semua pengurus kelas, dan juga semua orang yang ada di kelas itu. Kita gak boleh membebankan semuanya kepada satu orang, entah dia pengurus kelas atau bukan. Memang, yang paling berhak mengurus kelas adalah pengurus kelas tapi bukan berarti kita membebankan semuanya kepada pengurus kelas, kita juga harus bantu-bantu. Karena kita pun ikut menumpangi kelas itu, apa pun yang terjadi, kita tanggung bersama. Asik.

Gue sudah berpikir seobjektif mungkin, jadi tulisan ini murni pemikiran gue, bukan karena gue ada rasa sama yang bersangkutan. Intinya, ketua kelas memang bertanggung jawab atas kelasnya, tapi bukan berarti semua beban kita limpahkan ke dia, kan? Udah semua beban dilimpahkan ke dia, terus kalau salah, kalian juga menyalahkan dia—meskipun bukan murni kesalahan dia? Yakin banget dia akan kapok untuk tidak lagi menjadi ketua kelas. Lagipula kalian juga gak bayar dia, gak berhak juga kalau kalian seenaknya sama dia.

Sincerely, Kyuto Karen.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Semua Ini Salah Siapa?

9 komentar:

  1. Dilema menjadi ketua kelas adalah tidak bisa menyenangkan semua pihak....akan selalu ada pihak yang merasa dirugikan. #percaya dech.. Ngga enak jadi ketua kelas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap. Menjadi ketua memang gak enak. Yang enak itu nasi Padang (?)

      Delete
  2. nice post, ditunggu post selanjutnya..

    ReplyDelete
  3. nice post, ditunggu post selanjutnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu, apa juga dibilang "nice". Btw, udah diposting. Udah baca?

      Delete
  4. semoga jadi ketua kelas yg adil dan gak dzalim....

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir. Silakan tinggalkan jejak dengan cara berkomentar di kolom komentar. Kalau ada waktu pasti dikunjungi balik. Salam! :)

Copyright © 2016 Kyuto Karen