I post random thoughts.

Wednesday, October 14, 2015

UTS: Ujian Tidak Serius

Gue baru aja melewati salah satu masa-masa terberat dalam hidup. Sebut saja dia UTS: Ujian Tidak Serius. Tepatnya satu minggu yang lalu UTS sekolah gue ini selesai. Tadinya gue mau memposting tulisan ini satu minggu yang lalu, tapi berhubung satu minggu yang lalu adalah ulang tahun adik gue, jadinya gak jadi gue posting tulisan ini. UTS di sekolah gue berlangsung dari tanggal 5 - 9 Oktober 2015. Iya, cuma lima hari. Tapi sistem UTS kali ini berbeda dengan sistem UTS saat SMP dulu. Kalau dulu sehari itu cuma dua pelajaran kalau sekarang bisa sampai empat pelajaran. Mungkin karena pelajaran saat SMA lebih banyak daripada SMP. Entahlah, apapun alasannya, gue gak mau tau.

Satu minggu yang lalu menjadi minggu-minggu terberat bagi gue. Iya, berat. Lebih berat daripada berat badan gebetan kamu. Di mana gue harus menjalani masa-masa UTS dalam keadaan pikiran yang lagi gak karuan. Gue lagi banyak pikiran pada saat itu. Gapapa, daripada banyak selingkuhan... Seminggu itu gue gak bisa senang atau bahkan ketawa. Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya. Tapi akhirnya pada hari terakhir UTS gue bisa tertawa dengan puas. Hahaha.

UTS gue sebut sebagai Ujian Tidak Serius. Ya... memang begitu. Gue memang jarang bahkan tidak pernah serius dalam menghadapi ujian sekolah mau pun ujian hidup. Makanya hidup gue sering banget dibilang tanpa beban padahal mah...

Yang paling gue ingat, saat Ujian Nasional yang baru saja gue lewati saat bulan Mei lalu, saat esok harinya adalah pelajaran matematika, yang notabenenya pelajaran itu adalah pelajaran yang paling kejam melebihi kejamnya ibu tiri bahkan ibu kota. Alih-alih belajar dan mengerti soal-soal untuk besok gue malah bakar jagung sendirian di rumah. Kemudian setelah membakar jagung gue malah cekikikan sendirian di depan TV. Semuanya gue lakukan sendirian. Karena gue jomblo. Gue lupa nonton acara TV apa pada saat itu, yang jelas lucu banget! Tapi setelah itu akhirnya gue tersadar bahwa besok gue UN dan pelajarannya adalah matematika. Gue langsung mematikan TV yang ada di hadapan gue dengan berat hati, "Maaf, TV, aku harus pergi. Cuma sebentar, kok. Jangan nakal, ya, sampai aku balik lagi". Begitulah gue pergi meninggalkan si TV dan beralih ke kamar untuk belajar kembali. Tapi ternyata semuanya gagal kembali. Setelah makan jagung bakar dan cekikikan depan TV akhirnya gue kekenyangan dan tertidur di atas buku yang tengah dibuka. Akhirnya setelah terbangun gue pun membenahi buku-buku yang berserakan di atas tempat tidur dan melanjutkan mimpi gue lagi. Memang, tempat tidur adalah tempat paling nyaman buat belajar dan meja belajar adalah tempat paling nyaman untuk tidur.

Hingga keesokan harinya ternyata materi yang gue pelajari itu sangat berbeda dengan apa yang gue dapati di kertas ujian. Gue mempelajari tipe soal A namun yang gue dapat adalah tipe soal B. Matilah gue pada saat itu. Karena gue hanya mengerti tentang rumus median dan kawan-kawannya, akhirnya gue memutar otak gue. Gak mungkin gue nyontek karena salah satu pengawas sudah mulai memberikan sinyal-sinyal cintanya kepada gue. Melirik-lirik dengan mata yang penuh harapan. Kayak lagunya jeketi. Tapi doi gak mungkin juga gue pacari karena mengingat usia kami yang berbeda jauh lalu gue hanya membalas lirikannya seolah berkata, "Maaf, Bu, kamu terlalu tua untuk aku". Akhirnya gue mendapatkan ilham, gue menciptakan rumus sendiri. Akhirnya gue bisa menyelesaikannya dengan sangaaaat baik.

Balik lagi ke UTS. Mencontek menjadi pemandangan yang biasa dalam UTS. Pengawas ujian pun mengetahuinya tapi yang gue heran adalah, kenapa diadakan UTS dan kawan-kawannya padahal para guru pun tahu kalau para muridnya bakal nyontek sana-sini. Entah. Gak mau tau juga.

Ngebet ke buku menjadi hal yang wajar tapi tidak bagi gue. Gue lebih milih nanya dibanding ngebet ke buku. Ya... meskipun nanyanya sama mereka yang ngebet ke buku... Gue gak mau ambil resiko. Semisal itu orang ketauan pengawas bahwa dia ngebet ke buku, gue gak bakal ditarik dalam masalahnya karena gue gak ikutan ngebet. Like a boss.

Teman sebangku gue ini masih kaku untuk diajak sesat atau mungkin memang dia gak sesat seperti gue. Gue bagaikan iblis dan dia bagaikan malaikat.......kematian. Peace, my fren, it just a joke.

Gue gak bisa kerjasama sama dia. Tapi perjuangan gue gak berhenti sampai di situ. Gue memutuskan untuk bekerjasama dengan orang di sebelah gue. Sebut saja dia Big. Karena memang Big.

Waktu itu saat pelajaran yang tengah diujikan adalah akuntansi, btw, gue SMA bukan SMK. Gak tau kenapa ada akuntansi, entah apa mau sekolahnya. Si Big ini ngebet ke buku dan gue melihatnya langsung. Gue sengaja melihatnya lebih lama, semacam kode rahasia.

"Coy, bagi-bagi kali", sekilas begitulah lirikan gue bermakna.

Kemudian Big menyadari lirikan gue dan dia membalasnya dengan senyuman yang begitu mengikat. Saking mengikatnya gue sampai tercekik. Senyuman itu seolah-olah berarti, "Ok", gue menunggunya dengan manis. Akhirnya Big melemparkan jawabannya kepada gue. Mission success.

Kalau adegan menyontek gue dengan Big dimasukkan ke dalam drama, mungkin bakal masuk ke dalam genre romance. Eh, tapi gue gak mau terjebak adegan romance dengan si Big. Gak seimbang aja gitu. Bukan bermaksud gimana, badan si Big ini besar sementara badan gue kurus. Gak kebayang kalau misalnya gue pacaran sama doi nanti badan gue bakal tinggal tulang mungkin. Sebab makanan gue selalu diberantas oleh doi. Dan kalau lagi naik motor, motornya bakal jemping. Gue gak tau apa bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk jemping. Pokoknya gitu. Kayak naik jungkat-jungkit gitu.

Balik lagi membahas tentang UTS. Gue gak begitu merasa kesulitan dengan UTS kali ini karena jadwal tiap kelasnya berbeda-beda dan itu memudahkan kami para murid untuk mencari bocoran soal. Tapi ada juga guru yang licik. Padahal kan dengan bocoran soal itu kita jadi bisa lebih terarah belajarnya kalau tahu materinya dan kemungkinan mendapat nilai bagus jauh lebih besar. Kalau muridnya dapat nilai bagus kan yang bangga sekolahnya juga.

Ya... UTS memang Ujian Tidak Serius. Tapi gak se-tidak serius yang kalian pikirkan, kok. Gue tetap belajar sampai tengah malam demi mendapat nilai yang bagus buat tembus PTN. Dan meskipun gue belajar sampai tengah malam, besoknya pagi-pagi banget gue tetap belajar dengan kalang kabut. Gak tau. Pokoknya gue selalu kalang kabut kalau menjelang ujian. Jantung gue bakal berdetak lebih kencang seperti lagunya Ahmad Dhani, bukan seperti kendaraan mau lewat.

Begitulah Ujian Tidak Serius versi gue. Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman mengenai ujian? Yuk, sharing di kolom komentar!

Sincerely, Kyuto Karen.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : UTS: Ujian Tidak Serius

2 komentar:

  1. Nggak usah terlalu serius dengan semua pelajaran sekolah. Fokus sama pelajaran yang kamu sukai aja. Pokoknya santai aja.

    Ini serius.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak terlalu serius, sih... sebenarnya hanya serius di pelajaran pokok aja.

      Delete

Terima kasih sudah mampir. Silakan tinggalkan jejak dengan cara berkomentar di kolom komentar. Kalau ada waktu pasti dikunjungi balik. Salam! :)

Copyright © 2016 Kyuto Karen