I post random thoughts.

Saturday, December 26, 2015

Tetangga-Tetangga Masa Gitu?

Beberapa hari yang lalu gue sempat berkeluh kesah dengan seorang teman. Gue ceritain beberapa keluhan gue mengenai beberapa tetangga yang agak bikin kesal. Ditambah lagi teman yang gue tumpahin segala keluhan gue ini malah tertawa mendengar keluhan gue, makin kesal gue saat itu. Gue khawatir, yang tadinya tetangga-tetangga gue ini yang mau gue ajak ke RSJ ternyata malah teman gue yang sakit jiwa. Karena gue sudah terlanjur kesal jadi gue tegur dia,
"WOY! Kok lu malah ketawa sih? Kasih solusi gitu kek."
Dan dengan kurang ajarnya dia hanya menjawab, "Gue kira di sini lu doang yang gak normal ternyata tetangga lu juga gak normal ya? Gak heran sih lu jadi gak normal." Gue diam aja ketika dia ngomong begitu. Kemudian dia ngomong lagi, "Serius, gue gak bercanda." Gue rasa dia punya indra keenam atau apalah yang bikin dia bisa tahu kalau lawan bicaranya gak percaya sama omongannya. Kalau ngomongin teman gue yang satu ini, agak aneh juga dia sebetulnya. Kapan-kapan gue ceritain tentang dia, kalau gue inget.

Ya. Jadi memang betul, beberapa tetangga gue memang anehnya bukan main. Kalau lu adalah tipe orang yang mudah terganggu dengan segala aktifitas seseorang—bahkan mereka bernafas pun menganggu lu, pastilah kalian setuju kenapa gue begitu merasa jengkel dengan beberapa tetangga gue. Ambillah contoh tetangga yang letak rumahnya berada di depannya tetangga sebelah rumah gue. Ngerti gak? Gue gak berharap kalian ngerti sih. Dia itu betul-betul orang yang gak punya kegiatan lain selain nangkring di belakang pintu pagar rumahnya dan mengamati setiap orang yang lewat. Maksudnya begini. Suatu waktu gue berangkat sekolah dia lagi asyik-asyiknya nangkring di belakang pintu pagarnya dan menyapa gue, "Mau sekolah?" Itu pertanyaan cukup bodoh sebetulnya tapi toh tetep aja gue jawab, dan gue merasa lebih bodoh ketika menjawabnya dengan senyuman seolah-olah gue senang disapa begitu padahal dia hanya berbasa-basi. Lalu lu akan melihat dia pada saat lu pulang dari sekolah dengan posisi yang sama seperti saat lu berangkat sekolah dilengkapi dengan basa-basinya. Gue terkadang mikir, ini orang punya aktifitas lain gak sih selain berbasa-basi? Sebetulnya dia itu orang yang sangat ramah tapi keramahannya malah mengganggu gue, entahlah.

Gue agak benci ketika ada seseorang berusaha berbasa-basi ke gue. Maksud gue gini, mereka basa-basi ke gue karena mereka merasa iba melihat gue yang terlihat begitu kesepian dan membutuhkan teman ngobrol. Padahal sebetulnya gue nggak semenyedihkan itu sampai-sampai butuh seseorang untuk basa-basi ke gue. Dan kalau gue kesepian pun, gue gak akan pernah membutuhkan teman untuk sekadar ngobrol. Sebetulnya gue agak sombong juga untuk berbicara mengenai hal-hal gak penting untuk sekadar berbasa-basi.

Contoh yang lainnya adalah, tetangga sebelah kanan rumah gue. Mereka sekeluarga cukup baik sebetulnya tapi gue gak tau kenapa mereka masuk ke dalam tetangga yang menyebalkan. Gue sudah bilang bahwa mereka adalah orang yang cukup baik tapi menyebalkan bagi gue karena sebetulnya gue kurang nyaman sama orang yang baik, karena gue sendiri bukan orang baik. Menurut gue, orang baik itu—ekspresinya sangat sulit ditebak. Kita gak tau kalau sebetulnya mereka itu keberatan atau nggak dimintai tolong, they end up helped us, though. Ditambah lagi mereka cukup ramah juga dan mau gak mau gue juga harus begitu kepada mereka. Masalahnya begini. Gue agak benci juga sama orang-orang baik. Karena ketika gue melihat mereka, gue, mau pun orang di sekitar gue hanya akan membanding-bandingkan diri gue dengan mereka—orang-orang baik itu. Lalu gue akan memaksakan diri untuk seperti mereka. Hell.

Contoh yang ketiga adalah, tetangga belakang rumah gue. Inilah yang paling bikin naik darah. Dia seorang bapak-bapak yang suka banget dangdutan tengah malam sambil ngegosip dengan bahasa daerahnya yang gue gak ngerti. Maksud gue begini. Okelah kalau mau ngegosip tapi gak usah pake bahasa daerah juga deh, gue yang mau dengerin gosipnya kan jadi gak ngerti. Nggak, serius, gue sama sekali gak tertarik buat ngegosip sama orang-orang macam mereka. Lu bayangin tengah malam ketika lu mau tidur lalu ini orang dengan tanpa berdosanya menyalakan lagu dangdut lalu ikut bernyanyi dengan suara yang jauh dari kata merdu. Dan yang lebih menjengkelkan adalah ketika siang dia malah tidur. Okelah kalau tidur doang. Dia itu kalau tidur dengkurannya bisa terdengar sampai ke seluruh pelosok Indonesia. Serius, gue gak bohong. Kalian harus ketemu sama tetangga gue yang satu ini.

Yang terakhir adalah, sekumpulan bocah-bocah bau amis yang alaynya bukan main. Mereka masih kisaran anak-anak SD dan TK. Sudah gue bilang, tempat yang gue tinggali adalah tempat tinggalnya orang-orang aneh kecuali gue dan keluarga gue. Terdengar egois namun memang begitu. Bocah-bocah ini sering nyanyiin lagu-lagu yang ada di sinetron hewan itu. Gue gak akan merasa terganggu kalau suara mereka gak menyebabkan gue ingin memeriksakan telinga gue ke dokter THT. Sebetulnya suara gue juga jelek tapi beruntungnya gue gak pernah nyanyi di depan orang. Ditambah lagi mereka sering memainkan sebuah drama konyol di sebelah rumah gue. Kebetulan sebelah rumah gue adalah sebuah gang. Mereka sering bermain apa pun di sana. Dan kalau lagi ingin gue bisa aja matiin lampu di sebelah rumah gue lalu mereka teriak dengan histerisnya, malah ada yang sampai nangis. Contohnya kemarin malam salah satu bocah meneriaki temannya untuk nyamperin ini bocah, itu bocah teriaknya di gang sebelah rumah gue, malam-malam. Karena gue lagi gak ada kerjaan dan ingin ngerjain orang jadi gue matiin itu lampu lalu si bocah ini lantas kabur nyamperin temennya. Maksud gue begini. Kenapa gak dari tadi aja lu samperin temen lu dibanding harus teriak-teriak bikin gendang telinga orang pecah. Tapi sebetulnya lucu juga dia itu.

Yah... begitulah beberapa contoh makhluk yang hidup di tempat tinggal gue. Serius, gue gak mengada-ada, orang-orang macam mereka memang ada, dan hidup. Kalau kalian berkunjung ke tempat tinggal gue, silakan lihat sendiri keanehan orang-orang sini. Tapi biar bagaimanapun mereka tetap tetangga gue dan gue menyukai mereka, terutama ketika mereka memberi gue makanan dengan cuma-cuma.

Sincerely, Kyuto Karen.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Tetangga-Tetangga Masa Gitu?

8 komentar:

  1. ya itulah kalau kita gak bisa menempatkan diri

    ReplyDelete
  2. Ide tulisannya keren :-)

    Dimana-mana kayaknya ada deh jenis-jenis tetangga kayak yang disebutin di atas, khususnya tipe "orang-yang-terlihat-tidak-punya-kerjaan-tapi-terus-menyapa-kalau-kita-lewat" :D mereka juga ngga mau terlihat sombong dengan ngga menyapa soalnya hehe.

    Masalah "orang baik" yang disinggung di atas, menurut gua hampir semua orang melakukan ini (khususnya terhadap orang-orang yang tidak terlalu dekat/formalitas sosial), karena mau tidak mau setiap orang akan berusaha menempatkan diri, menyesuaikan diri sama lingkungan, terpaksa atau tidak terpaksa, dan "peran menjadi orang baik" diperlukan disini. Yang gua lihat selama ini begitu hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Merekanya gak salah kok. Sayanya aja yang salah, cuma ya... it just a trick. :)))

      Delete
  3. Tetangga sebelah kiri rumah saya, kosong. Rumahnya malah jadi sarang kelelawar. Sebelah kanan juga nggak ada, jalan doang.. Depan rumah jarang diisi juga, belakang apa lagi..

    Jadi, intinya saya nggak punya tetangga.. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, jadi kayak di filem-filem horror ya.

      Delete
  4. Akan selalu ada yg ga suka/ usil sebaik apapun perbuatan kita. Dan tetangga lha yg akan paling sering memberi penilaian

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir. Silakan tinggalkan jejak dengan cara berkomentar di kolom komentar. Kalau ada waktu pasti dikunjungi balik. Salam! :)

Copyright © 2016 Kyuto Karen